Stunting dan masalah gizi lainnya terjadi di berbagai wilayah di Indonesia termasuk di wilayah perkotaan. DKI Jakarta adalah salah satu daerah perkotaan dengan masalah stunting an gizi dengan prevalensi yang tinggi. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting anak usia di bawah 5 tahun (balita) di DKI Jakarta mencapai 14,8% pada tahun 2022, yang artinya 1 dari 4 anak balita di DKI mengalami kasus stunting. Kementerian kesehatan menargetkan angka prevalensi stunting di DKI Jakarta turun menjadi 10 persen (kumparan.com, 2023). Dampak dari kondisi tersebut antara lain adalah menghambat pertumbuhan dan perkembangan otak sehingga berisiko mengalami penurunan kemampuan intelektual, produktivitas, dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti diabetes dan hipertensi ketika dewasa.
Seputar Kesehatan Masyarakat (SKM) YTBN hadir sebagai salah satu intervensi kepada kelompok remaja dan ibu dengan anak balita untuk menurunkan angka stunting di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Adapun gambaran program SKM YTBN terdiri dari 3 program utama, yaitu:
1. Kader Kesehatan Remaja (SOBAT SEHAT NUSANTARA)
Intervensi kepada kelompok remaja dengan pembentukan kader kesehatan remaja melalui pendidikan kesehatan pada remaja yang berfokus pada kesehatan reproduksi dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
2. Promosi/Penyuluhan Kesehatan
Intervensi kepada kelompok ibu dengan balita dengan memberikan pendidikan kesehatan (komunikasi. informasi, dan edukasi) yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan serta membangun kesadaran ibu terkait penerapan PHBS (yang didalamnya mencakup kesehatan diri dan lingkungan dengan 10 indikator perilaku, yaitu: persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan, pemberian ASI eksklusif, menimbang bayi dan balita secara berkala, cuci tangan dengan sabun dan air bersih, menggunakan air bersih, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik nyamuk, konsumsi buah dan sayur, melakukan aktivitas fisik, dan tidak merokok) dan pengaruhnya terhadap pencegahan stunting.
3. Health Screening/ Pemeriksaan Kesehatan
Pengecekan kesehatan secara rutin dan berkala idealnya dilakukan tiap 6 bulan sekali dan atau jika ada keluhan, namun masih adanya keterbatasan masyarakat (terutama kelompok remaja dan ibu dengan balita) dalam mengakses layanan kesehatan membuat potensi timbulnya penyakit lebih besar. Pemeriksaan kesehatan YTBN merupakan penyediaan akses layanan kesehatan dengan melakukan pemeriksaan Tekanan Darah, Pengecekan Glukosa Darah Sewaktu (GDS), Pengecekan Asam Urat, dan Pengecekan Kolesterol yang dilakukan untuk mempermudah remaja dan ibu dengan balita mengakses layanan kesehatan. Health screening menjadi esensi dasar dari transformasi kesehatan dalam menjawab tantangan Indonesia menghadapi stunting hingga tren penyakit tidak menular yang akan terus membayangi masyarakat di seluruh siklus kehidupan.
Seputar Kesehatan Masyarakat (SKM) akan menyasar 200 titik wilayah padat penduduk dengan tingkat kesenjangan dan kerentanan sosial tinggi yang memiliki berbagai masalah kesehatan dan sosial seperti di area bantaran sungai ciliwung, pinggir rel, dan area dengan sanitasi buruk yang teridentifikasi sebagai RW kumuh di daerah Jakarta dan sekitarnya. Area-area tersebut antara lain adalah Mangga dua selatan, Manggarai, Pulogadung, Pela Mampang, Karang Anyar, Depok, dan Tangerang Selatan